Sikap “Tabayyun” Seorang Muslim ust.Abdul Latif

Standard
Tabayyun

Tabayyun

Sikap Tabayyun (Khotbah Jum’at Masjid Jihad)


“Hai orang-orang yang beriman, jika datang kepadamu orang fasik membawa suatu berita, maka periksalah (kebenarannya) dengan teliti, agar kamu tidak menimpakan suatu musibah kepada suatu kaum tanpa mengetahui keadaannya yang menyebabkan kamu menyesal atas perbuatanmu itu”. (Al-Hujurat: 6)

Ayat diatas menganjurkan kita untuk meneliti terlebih dahulu setiap kebenaran berita yang kita terima. Ketelitian terhadap suatu perkara akan meminta kita untuk berhati-hati, tidak gegabah, ceroboh dalam memutuskan atau menjustifikasi suatu berita sebelum kita tahu kebenarannya.

Ayat ini –seperti yang dikemukakan oleh Ibnu Katsir- termasuk ayat yang agung karena mengandung sebuah pelajaran yang penting agar umat tidak mudah terpancing, atau mudah menerima begitu saja berita yang tidak jelas sumbernya, atau berita yang jelas sumbernya tetapi sumber itu dikenal sebagai media penyebar berita palsu, isu murahan atau berita yang menebar fitnah.

Apalagi perintah Allah ini berada di dalam surah Al-Hujurat, surah yang sarat dengan pesan etika, moralitas dan prinsip-prinsip mu’amalah sehingga Sayyid Quthb mengkategorikannya sebagai surah yang sangat agung lagi padat (surat jalilah dhakhmah), karena memang komitmen seorang muslim dengan adab dan etika agama dalam kehidupannya menunjukkan kualitas akalnya (adabul abdi unwanu aqlihi).

Terdapat beberapa riwayat tentang sebab turun ayat ini yang pada kesimpulannya turun karena peristiwa berita bohong yang harus diteliti kebenarannya dari seorang Al-Walid bin Uqbah bin Abi Mu’ith tatkala ia diutus oleh Rasulullah untuk mengambil dana zakat dari Suku Bani Al-Musththaliq yang dipimpin waktu itu oleh Al-Harits bin Dhirar seperti dalam riwayat Imam Ahmad. Al-Walid malah menyampaikan laporan kepada Rasulullah bahwa mereka enggan membayar zakat, bahkan berniat membunuhnya, padahal ia tidak pernah sampai ke perkampungan Bani Musththaliq. Kontan Rasulullah murka dengan berita tersebut dan mengutus Khalid untuk mengklarifikasi kebenarannya, sehingga turunlah ayat ini mengingatkan bahaya berita palsu yang coba disebarkan oleh orang fasik yang hampir berakibat terjadinya permusuhan antar sesama umat Islam saat itu. Yang menjadi catatan disini bahwa peristiwa ini justru terjadi di zaman Rasulullah yang masih sangat kental dan dominan dengan nilai-nilai kebaikan dan kejujuran.

Tabayun (at-tabayyun), artinya adalah mencari kejelasan hakekat suatu atau kebenaran suatu fakta dengan teliti, seksama dan hati-hati.  Sikap tabayyun ini diharuskan agar tidak memunculkan sikap prasangka . Sebagaimana dalam Al-qur’an dijelaskan bahwa sikap prasangka itu adalah sebagian dosa. Sikap tabayyun juga menjaga kita dari sikap menuduh orang lain tanpa bukti.  Tabayyun juga menghindari kita dari konflik.

Disini, yang harus diwaspadai adalah berita dari seorang yang fasik, seorang yang masih suka melakukan kemaksiatan, tidak komit dengan nilai-nilai Islam dan cenderung mengabaikan aturannya. Lantas bagaimana jika sumber berita itu datang dari media yang cenderung memusuhi Islam dan ingin menyebar benih permusuhan dan perpecahan di tengah umat, tentu lebih prioritas untuk mendapatkan kewaspadaan dan kehati-hatian.

Selain sikap waspada dan tidak mudah percaya begitu saja terhadap sebuah informasi yang datang dari seorang fasik, Allah juga mengingatkan agar tidak menyebarkan berita yang tidak jelas sumbernya tersebut sebelum jelas kedudukannya. Allah swt berfirman, “Tiada suatu ucapan pun yang diucapkannya melainkan ada di dekatnya malaikat pengawas yang selalu hadir”. (Qaaf: 18).

Sehingga sikap yang terbaik dari seorang mukmin seperti yang pernah dicontohkan oleh para sahabat yang dipelihara oleh Allah saat tersebarnya isu yang mencemarkan nama baik Aisyah ra adalah mereka tetap berbaik sangka terhadap sesama mukmin dan senantiasa berwaspada terhadap orang yang fasik, apalagi terhadap musuh Allah yang jelas memang menginginkan perpecahan dan perselisihan di tubuh umat Islam.

“Dan mengapa kamu tidak berkata, di waktu mendengar berita bohong itu: “Sekali-kali tidaklah pantas bagi kita memperkatakan ini. Maha Suci Engkau (Ya Tuhan kami), ini adalah dusta yang besar.” (An-Nur: 16).

Dalam sebuah riwayat dari Qatadah disebutkan, “At-Tabayyun minaLlah wal ‘ajalatu Minasy Syaithan”, sikap tabayun merupakan perintah Allah, sementara sikap terburu-buru merupakan arahan syaitan.

Riwayat tentang Aisyah Radiallahu ‘anha terkena fitnah dan turunlah firman Allah subhanahuwata'ala

Dalam Surah an-Nur  sebanyak sepuluh ayat (Surah an-Nur:AYAT 11-20)  sebagai berikut :

إِنَّ ٱلَّذِينَ جَآءُو بِٱلۡإِفۡكِ عُصۡبَةٌ۬ مِّنكُمۡ‌ۚ لَا تَحۡسَبُوهُ شَرًّ۬ا لَّكُم‌ۖ بَلۡ هُوَ خَيۡرٌ۬ لَّكُمۡ‌ۚ لِكُلِّ ٱمۡرِىٍٕ۬ مِّنۡہُم مَّا ٱكۡتَسَبَ مِنَ ٱلۡإِثۡمِ‌ۚ وَٱلَّذِى تَوَلَّىٰ كِبۡرَهُ ۥ مِنۡہُمۡ لَهُ ۥ عَذَابٌ عَظِيمٌ۬ (١١) لَّوۡلَآ إِذۡ سَمِعۡتُمُوهُ ظَنَّ ٱلۡمُؤۡمِنُونَ وَٱلۡمُؤۡمِنَـٰتُ بِأَنفُسِہِمۡ خَيۡرً۬ا وَقَالُواْ هَـٰذَآ إِفۡكٌ۬ مُّبِينٌ۬ (١٢) لَّوۡلَا جَآءُو عَلَيۡهِ بِأَرۡبَعَةِ شُہَدَآءَ‌ۚ فَإِذۡ لَمۡ يَأۡتُواْ بِٱلشُّہَدَآءِ فَأُوْلَـٰٓٮِٕكَ عِندَ ٱللَّهِ هُمُ ٱلۡكَـٰذِبُونَ (١٣) وَلَوۡلَا فَضۡلُ ٱللَّهِ عَلَيۡكُمۡ وَرَحۡمَتُهُ ۥ فِى ٱلدُّنۡيَا وَٱلۡأَخِرَةِ لَمَسَّكُمۡ فِى مَآ أَفَضۡتُمۡ فِيهِ عَذَابٌ عَظِيمٌ (١٤) إِذۡ تَلَقَّوۡنَهُ ۥ بِأَلۡسِنَتِكُمۡ وَتَقُولُونَ بِأَفۡوَاهِكُم مَّا لَيۡسَ لَكُم بِهِۦ عِلۡمٌ۬ وَتَحۡسَبُونَهُ ۥ هَيِّنً۬ا وَهُوَ عِندَ ٱللَّهِ عَظِيمٌ۬ (١٥) وَلَوۡلَآ إِذۡ سَمِعۡتُمُوهُ قُلۡتُم مَّا يَكُونُ لَنَآ أَن نَّتَڪَلَّمَ بِہَـٰذَا سُبۡحَـٰنَكَ هَـٰذَا بُہۡتَـٰنٌ عَظِيمٌ۬ (١٦) يَعِظُكُمُ ٱللَّهُ أَن تَعُودُواْ لِمِثۡلِهِۦۤ أَبَدًا إِن كُنتُم مُّؤۡمِنِينَ (١٧) وَيُبَيِّنُ ٱللَّهُ لَكُمُ ٱلۡأَيَـٰتِ‌ۚ وَٱللَّهُ عَلِيمٌ حَكِيمٌ (١٨) إِنَّ ٱلَّذِينَ يُحِبُّونَ أَن تَشِيعَ ٱلۡفَـٰحِشَةُ فِى ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ لَهُمۡ عَذَابٌ أَلِيمٌ۬ فِى ٱلدُّنۡيَا وَٱلۡأَخِرَةِ‌ۚ وَٱللَّهُ يَعۡلَمُ وَأَنتُمۡ لَا تَعۡلَمُونَ (١٩) وَلَوۡلَا فَضۡلُ ٱللَّهِ عَلَيۡڪُمۡ وَرَحۡمَتُهُ ۥ وَأَنَّ ٱللَّهَ رَءُوفٌ۬ رَّحِيمٌ۬ (٢٠)

 

surah ini untuk membebaskan Aisyah radiyallahu anha dari fitnah keji kaum munafik tersebut, dan betapa gembiranya Rasulullah dengan khabar tersebut.

Antara ayat yang diturunkan juga adalah teguran Allahu subhanahu wa ta’ala kepada ummat muslim kerana mempercayai khabar angin begitu sahaja, kenapa tidak mereka malah bersangka baik kepada sesama muslim jika tidak ada bukti yang kuat.

Dicontohkan dari penerangan ayat tersebut kisah Abu Ayyub Al-Anshari dan isterinya Ummu Ayyub radiayallahu ‘anhuma.

Suatu ketika Ummu Ayyub datang kepada Abu Ayyub dan berkata: “Wahai Abu Ayyub, sudahkah engkau mendengar apa yang dikatakan ahli Madinah tentang Aisyah?”

Abu Ayyub menjawab singkat: “Ya aku mendengarnya dan itu tidak benar.”

Ummu Ayyub menimpalinya: “Bagaimana kau tahu itu?”

Abu Ayyub: “Adakah engkau pernah berzina?”

Sebagai isteri pastilah terkejut dan takut dengan pertanyaan suaminya tersebut, “Tidak wahai Abu Ayyub, demi Allah aku tidak pernah melakukannya!” Jawapnya dengan nada suara yang bergetar.

Abu Ayyub menjawab tenang: “dan Aisyah lebih baik dari engkau” (maksudnya, kalau kau tidak pernah melakukannya, apalagi isteri Rasulullah shollahu ‘alaihi wasallam yang menjadi pendamping baginda pasti tidak akan melakukan perbuatan terkutuk tersebut)

Lihatlah, betapa indahnya keteguhan kepercayaan Abu Ayyub Al-Anshari kepada isteri Rasulullah, ia percaya peribadi yang agung seperti Rasulullah pasti tidak ditemani oleh sembarangan orang.

Dalam Kehidupan Imam Besar pun pernah terkena fitnah. Yaitu, Imam Bukhari yang juga terkena fitnah dari salah seorang yang mengatakan bahwa imam bukhari pernah mengatakan alquran itu makhluk. Padahal imam bukhari waktu itu mengatakan bahwa, Mengucapkan itu makhluk dan yang diucapkan berupa Kalamullah. Seperti Mengucapkan Bismillah itu adalah makhluk, dan yang diucapkan berupa kalimat Bismillah itu adalah Kalamullah.

Kebesaran akan keilmuan beliau diakui dan dikagumi sampai ke seantero dunia Islam. Di Naisabur, tempat asal imam Muslim seorang Ahli hadits yang juga murid Imam Bukhari dan yang menerbitkan kitab Shahih Muslim, kedatangan beliau pada tahun 250 H disambut meriah, juga oleh guru Imam Bukhari Sendiri Muhammad bin Yahya Az-Zihli. Dalam kitab Shahih Muslim, Imam Muslim menulis. “Ketika Imam Bukhari datang ke Naisabur, saya tidak melihat kepala daerah, para ulama dan warga kota memberikan sambutan luar biasa seperti yang mereka berikan kepada Imam Bukhari”. Namun kemudian terjadi fitnah yang menyebabkan Imam Bukhari meninggalkan kota itu dan pergi ke kampung halamannya di Bukhara.

Seperti halnya di Naisabur, di Bukhara beliau disambut secara meriah. Namun ternyata fitnah kembali melanda, kali ini datang dari Gubernur Bukhara sendiri, Khalid bin Ahmad Az-Zihli yang akhirnya Gubernur ini menerima hukuman dari Sultan Uzbekistan Ibn Tahir.

Tak lama kemudian, atas permintaan warga Samarkand sebuah negeri tetangga Uzbekistan, Imam Bukhari akhirnya menetap di Samarkand. Tiba di Khartand, sebuah desa kecil sebelum Samarkand, ia singgah untuk mengunjungi beberapa familinya. Namun disana beliau jatuh sakit selama beberapa hari, dan Akhirnya meninggal pada tanggal 31 Agustus 870 M (256 H) pada malam Idul Fitri dalam usia 62 tahun kurang 13 hari. Ia dimakamkan selepas Salat Dzuhur pada Hari Raya Idul Fitri.

Bagaimana pentingnya tabayyun dalam informasi sehingga tidak salah dalam menetapkan seseorang bersalah atau tidak. Apalagi yang di tuduh adalah seorang ulama besar.

Lisan harus dikontrol dengan baik. Sebab, semua yang keluar darinya, selalu ada pengawas yang mencatat. Allah swt berfirman,
“Dan sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dan mengetahui apa yang dibisikkan oleh hatinya, dan Kami lebih dekat kepadanya daripada urat lehernya”, “(yaitu) ketika dua orang malaikat mencatat amal perbuatannya, seorang duduk di sebelah kanan dan yang lain duduk di sebelah kiri”. “Tiada suatu ucapanpun yang diucapkannya melainkan ada di dekatnya malaikat pengawas yang selalu hadir. (QS Qaaf [50]: 16 – 18.)

Dan Firman Allahsubhanahuwata'ala tentang Dua malaikat yang ada di kanan dan diri kita yang selalu mengawasi , :
Padahal sesungguhnya bagi kamu ada (malaikat-malaikat) yang mengawasi (pekerjaanmu), Yang mulia (di sisi Allah) dan mencatat (pekerjaan-pekerjaanmu itu). (Al Infithaar 10 – 11)

Apakah mereka mengira bahwa Kami tidak mendengar rahsia dan bisikan-bisikan mereka? Sebenarnya (Kami mendengar), dan utusan-utusan (malaikat-malaikat) Kami selalu mencatat di sisi mereka. (Az-Zukhruf 80)

Sama saja (bagi Tuhan), siapa di antaramu yang merahasiakan ucapannya, dan siapa yang berterus terang dengan ucapan itu, dan siapa yang bersembunyi di malam hari dan yang berjalan (menampakkan diri) di siang hari. Bagi manusia ada malaikat-malaikat yang selalu mengikutinya bergiliran, di muka dan di belakangnya, mereka menjaganya atas perintah Allah. (Ar-Ra’du 10-11)

Sikap tabayyun ini perlu juga dimiliki oleh media, baik cetak, maupun elektronik. Berita yang muncul jangan hanya mencari sensasi, untuk meningkatkan oplah penjualan. Setelah itu memunculkan permasalahan, keresahan yang dapat mengakibatkan fitnah dimana-mana. Apalagi saat ini media dengan mudahnya menguasai pemikiran masyarakat. Jika banyaknya berita-berita bohong yang dmunculkan, maka hal ini tentu meresahkan, membuat rusuh, kekacauan, dan bahkan bisa saja orang yang tidak bersalah menjadi kambing hitamnya.

Ada pesan dari Sahabat Rasulullah Saw yakni dari Umar bin khatab ra yang mengatakan bahwa  Ada tiga jenis manusia;  dan salah satu diantaranya yang membuat aku khawatir. Manusia yang beriman dan khafir sudah jelas kedudukannya, aku tidak khawatir terhadapnya. Namun manusia fasik inilah yang kamu harus berhati-hati terhadapnya, jika berada dalam kalangan mukmin seolah-olah ia tampak beriman, namun ketika kembali ke golongannya, sesungguhnya ia menginkarinya.

Perkataan sahabat Rasul ini mengingatkan kita bahwa dalam menerima berita, harus ditanamkan sikap kehati-hatian. Tidak begitu saja menerima apa yang disampaikan oleh orang tersebut, apalagi kita tidak tahu bagaimana pribadi dan akhlaknya.

Sholat Jum’at :

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s